Alergi Susu Sapi atau Intoleransi Laktosa? Ketahui Perbedaannya!

Banyak ibu yang tidak tahu penyebab bayinya tidak bisa minum susu sapi. Biasanya diagnosa pertama yaitu alergi susu sapi. Namun Anda tak pernah berpikir kalau hal itu disebabkan karena intoleransi laktosa. Kedua penyakit ini sebenarnya berbeda, meski gejalanya hampir sama. Berikut perbedaan anrtara keduanya secara lengkap.

Perbedaan Penyebab Alergi Susu Sapi dan Intoleransi Laktosa

Alergi terjadi karena reaksi abnormal dari sistem imun saat kontak dengan zat alergen. Misalnya anak Anda memang alergi salah satu kandungan dalam susu sapi sehingga tubuh menunjukkan tanda-tanda seperti kulit kemerahan hingga tanda lainnya.

Sedangkan intoleransi terhadap laktosa berupa ketidakmampuan tubuh dalam mencerna kandungan laktosa dalam susu sapi. Dalam hal ini organ anak yang tidak bisa mencerna kandungan laktosa sehingga terjadi beberapa gejala pencernaan. Agar lebih jelas, berikut penjelasan selengkapnya mengenai kedua penyakit tersebut.

Alergi Terhadap Susu Sapi

Alergi susu sapi paling umum terjadi pada anak-anak. Bahkan 95% kasus alergi susu terjadi pada usia 1 tahun pertama kehidupan. Anak-anak yang teridentifikasi memiliki alergi susu sapi pada usia 4 bulan. Penyakit ini biasanya bisa sembuh secara keseluruhan saat usia anak 3 tahun.Jika dia mengalami reaksi alergi langsung, alergi mungkin berakhir pada masa remajanya.

Gejala penyakit ini yakni menyerang pencernaan seperti kolik, diare, dan muntah. Bahkan dalam beberapa kasus juga disertai alergi pada kulit seperti urticarial atau eksim atopik dan gejala gangguan saluran pernapasan.

Jika anak Anda alergi susu sapi, maka ia bisa saja langsung bereaksi setelah minum sesuatu yang berbahan dasar susu. Wajahnya akan memerah seperti ruam dan berair. Sebagian besar reaksi alergi terhadap susu terjadi segera, namun reaksi alergi yang tertunda juga sering terjadi.

Pada penyakit ini, cara penanganannya dapat dilakukan dengan diet ketat pada produk susu. Anda harus menghindari semua olahan susu sapi untuk anak. Jika si kecil masih mengonsumsi ASI, hal ini masih bisa dilanjutkan dengan catatan Ibu harus mengontrol diet dan pola makan yang tidak didominasi makanan yang mengandung protein susu sapi.

Intoleransi Laktosa

Sedangkan intoleransi terhadap laktosa disebabkan karena tubuh kekurangan enzim laktosa. Kekurangan enzim ini dapat mengakibatkan tubuh tidak mampu untuk mencerna kandungan gula pada susu sapi. Jika terjadi bakteri di usus dengan laktosa yang tidak bisa dicerna tubuh sehingga mengakibatkan produksi gas dalam jumlah besar.

Gejala yang biasa muncul yakni nyeri perut, diare, dan kembung. Intoleransi terhadap laktosa tidak menimbulkan banyak gejala layaknya alergi susu sapi. Dalam penyakit ini hanya menimbulkan gejala pada bagian pencernaan saja.

Intoleransi terhadap laktosa biasanya terjadi setelah infeksi perut. Infeksi ini bisa berlangsung hingga empat minggu sebelum usus kembali pulih dan bisa memecah laktosa lagi. Anda harus mengetahui hal ini lebih dini agar tidak terjadi infeksi yang parah.

Bayi bisa mengambil protein susu melalui ASI, agar menghindari susu formula berbasis susu sapi. Susu sendiri memiliki dua jenis protein yaitu kasein dan whey. Bayi Anda bisa saja alergi terhadap salah satu jenis protein tersebut.

Diet ketat tidak begitu disarankan jika terkena intoleransi terhadap laktosa. Anda cukup mengatur konsumsi susu dalam jumlah yang sedikit agar bisa mengendalikan kontak terhadap laktosa.

Jika si kecil menunjukkan gejala yang menjurus pada alergi susu sapi maupun intoleransi laktosa, maka segera konsultasikan kepada dokter maupun tenaga ahli terkait hal ini. Informasi yang sudah dijelaskan bisa menjadi referensi Anda sebelum membawa si kecil ke dokter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *